Bumi Makin Panas, Penyakit Makin Ganas

Perubahan iklim, selain membuat suhu bumi semakin panas, ternyata berpengaruh terhadap siklus kehidupan flora dan fauna. Di antaranya nyamuk. Ya, hewan pengganggu yang mengisap darah manusia itu kini mengalami perubahan bionomi atau perilaku menggigit.


"Nyamuk akan menggigit lebih sering. Sebab, biting rate atau angka gigitan rata-rata nyamuk meningkat, musim kawinnya semakin cepat, masa kematangan parasit nyamuk juga semakin pendek," kata Profesor Dr Umar Fahmi Akhmadi, MPH, PhD, mengutip laporan terbaru dari Intergovernmental Panel on Climate Change dalam acara "Aku Anak Sehat" di Cibubur, Jakarta.

Profesor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu menuturkan, masyarakat harus mewaspadai gigitan nyamuk yang membawa penyakit menular, seperti demam berdarah dengue, filariasis, chikungunya, malaria, Japanese encephalitis, dan radang otak akibat virus Nil Barat.

Contoh yang sudah terlihat, pada Agustus lalu sudah tercatat kasus demam berdarah. "Padahal selama ini Agustus merupakan zero case untuk demam berdarah." Catatan lain dari Intergovernmental Panel on Climate Change pada 1996 memprediksi bahwa kasus demam berdarah di Indonesia akan meningkat tiga kali lipat pada 2070.

"Kelompok yang berisiko tinggi terkena DBD adalah anak usia sekolah dasar," katanya.

Selain di lingkungan rumah, penularan sering terjadi di sekolah, taman kota, pasar tradisional, pemakaman, dan lingkungan bangunan tak terurus di perkotaan. Chikungunya, yang mulanya berasal dari Afrika, kini banyak menyerang orang dewasa di kawasan perkotaan.

Suhu tinggi akibat pemanasan global dan perubahan iklim juga menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan. Daya tahan tubuh terhadap mikroba patogen berkurang karena tingginya radiasi ultraviolet. Orang lebih mudah terkena penyakit yang disebabkan oleh infeksi.

Penyakit infeksi lama, seperti ebola, muncul kembali. Penyakit infeksi baru juga muncul secara mendadak dan menular melalui percikan udara serta kontak fisik, seperti SARS dan avian influenza. Di Eropa dan Amerika Serikat, heat stroke (panas tinggi akibat musim panas) menimbulkan korban jiwa dari anak balita dan orang jompo.

Bencana kekeringan dan berkurangnya sumber air bersih mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat. Konsentrasi bakteri dalam sumber air bisa menimbulkan diare, hepatitis A, dan thypoid. "Bakteri merupakan pembunuh balita nomor satu. Makanan yang mengandung bakteri akibat pengolahan yang kurang higienis atau sumber air yang tercemar memicu penyakit ini," kata Profesor Umar.

Perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim juga menimbulkan penyakit pascabanjir. Banjir di Jakarta ditandai dengan meningkatnya jumlah penderita diare dan leptospirosis. Banjir di Bangladesh, menurut dia, diikuti dengan mewabahnya kolera.

Sedangkan kota di Pantai Utara Jawa, seperti Semarang dan Surabaya, yang sering dilanda rob, berpotensi menjadi tempat berkembang biak leptospirosis dan virus Hanta.
Menanamkan perilaku hidup sehat adalah cara yang penting untuk mencegah berbagai penyakit itu.

Misalnya membersihkan tempat berkembang biaknya nyamuk, mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, serta mengkonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sering mandi juga berpengaruh positif terhadap kesehatan.

Penelitian dari Rothamsted Research, London, pada 2009 menemukan bahwa orang yang aktif akan mengeluarkan senyawa kimia yang disukai nyamuk. Menurut penelitian itu, orang yang sering mandi, bau tubuhnya akan lebih netral, dan mengurangi frekuensi gigitan nyamuk.

Pada anak-anak, Umar juga menekankan pentingnya imunisasi dan memilih makanan sehat. "Anak sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap dampak perubahan iklim." Cara lain tentunya menjaga lingkungan kita dengan hemat energi, mencegah polusi, dan melakukan penghijauan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.


0 komentar:

Post a Comment