Layang - Layang Unik









Layang-layang tidak hanya digemari anak-anak, karena justru orang dewasa yang lebih banyak mendominasi. Mereka bahkan memburu untuk dijadikan koleksi. Tidak sedikit kocek yang harus disiapkan. Untuk membuatnya saja menghabiskan dana mencapai Rp3 juta. Jika memburunya, harus menyiapkan dana mencapai puluhan juta.

Semakin unik dan semakin tinggi tingkat kesulitan membuatnya, maka semakin mahal harga jual layang-layang. Namun demikian, tidak mudah para pemburu untuk memilikinya, kecuali jika pembuatnya sudah menyatakan bosan dan ingin merancang kembali. Maka layangan hasil kreativitas para layang-layang mania ini dapat diperjualbelikan.

Walaupun kelihatannya tidak sulit membuat layangan, ternyata untuk satu layang-layang dapat menghabiskan waktu satu sampai tiga bulan. Tingkat kesulitan merancang layang-layang yang unik terletak pada bagian arku atau rangka layangan. Di proses ini, pembuatnya harus teliti mengukur keseimbangan rangka serta teknik kekuatannya. Salah sedikit, maka hasilnya dinyatakan gagal dan harus memulai dari awal.

Teguh Susanto, asal Jawa Barat ini memiliki layangan terbaiknya berbentuk tukang becak. Terlihat unik dan rumit. Ada becak dan pengayuhnya, persis becak sesungguhnya. Layangan ini dibuat selama dua bulan dengan menghabiskan dana Rp 3 juta. Teguh tidak sendiri, dibantu empat temannya.

Saking unik dan rumitnya, banyak pengunjung yang ingin berfoto di samping layangan becak buatannya. Bahannya terbuat dari parasut, rangkanya dari bambu, dan sebagian dari pancingan. Untuk menerbangkannya, dibutuhkan enam orang.

“Museum Prancis meminta layangan “becak” untuk dijadikan koleksinya. Saya tolak. Saya belum bosan untuk melepasnya. Penghargaan yang luar biasa jika ada layangan yang menjadi koleksi museum layangan di sana (Prancis),” ujarnya.

Teguh juga membuat layangan yang dinamai “Busana Nusantara”. Ada 27 tumpukan yang mengekpresikan pakaian Nusantara. Ada juga yang dinamai “Train”. Ada 40 tumpukan dengan panjang mencapai 100 meter. Untuk menerbangkan layangan yang terakhir disebutkan, harus ditarik oleh mobil. “Orang bisa diangkat terbang. Tidak boleh hanya satu atau dua orang yang mengendalikannya,” ujarnya.

Yang tak kalah menariknya adalah buatan tim Bali. Layangannya berukuran besar dengan memasang kepala naga di ujung kepala layang-layang. Lengkap dengan ekornya. Menurut pembuatnya, Made Bagus, dibuatnya hanya semalam. Ia terpaksa begadang agar layang-layang buatannya bisa ikut festival. Layangan tim Bali dinamai “Janggan”.

Dari Cirebon menjagokan layangan bergambar mata uang Indonesia yang dibagi tiga tingkatan. Tingkatan pertama koin sen, kemudian 1 ½ ringgit, dan 10.000 rupiah. Sedangkan dari Kalimantan Selatan menjagokan layangan yang bentuknya seperti olahraga terjun payung.

Asran, 45 tahun, tim dari Kalimantan Selatan ini mengemukakan, hobi ini sudah digemari sejak lima tahun lalu. Awalnya, ia hanya jadi penonton. Lama-lama ia tertarik dan akhirnya belajar merakit layang-layang sendiri. Ia juga menjadi pemburu layang-layang unik. Koleksi yang dimilikinya sudah mencapai jumlah puluhan.









0 comments:

Post a Comment