Belajar Hemat Energi dari Taiwan


Bukan hal baru sebenarnya jika negara yang luas wilayahnya kecil lebih mudah dalam pengembangan teknologi-teknologi terbaru. Beberapa negara seperti Singapura, Brunei Darussalam, termasuk Taiwan telah membuktikannya.



Selain unggul dalam hal pengembangan bidang semikonduktor, Taiwan juga menaruh perhatian penuh pada pengembangan energi terbarukan (renewable energy).

Negara ini telah menargetkan sekitar 14,9% kapasitas terpasang dari kapasitas total energi yang dibutuhkan untuk penggunaan energi terbarukan pada 2025.

Padahal, jika dilihat dari luas lahan yang tersedia, Indonesia (terutama di luar Pulau Jawa) memiliki sejumlah lahan kosong yang belum termanfaatkan.

Sekarang ini, Taiwan mengalokasikan sekitar 20.000 hektare dari lahan yang tersedia untuk keperluan agrikultur, di sana mereka juga mengembangkan energi matahari (solar power) dan energi angin (wind power). Bahkan karena keterbatasan lahan, Biro Energi Taiwan merencanakan pengembangan sekitar 1 juta panel surya untuk atap, 1.000 turbin untuk wind power, baik di laut maupun di darat. Jika proposal ini berjalan sesuai prediksi, maka energi terbarukan ini akan mampu menopang kehidupan sekitar 8,9 juta jiwa warga Taiwan dengan energi yang dibangkitkan sekitar 35,6 miliar kWh per tahunnya.








Menariknya lagi, Pemerintah Taiwan mendukung penuh program pengembangan energi terbarukan ini. Sejauh ini negeri Formosa telah memasang empat turbin angin dengan daya masing-masing 660 kW di Miliaw, dua unit dengan daya masing-masing 1.750 kW di kawasan Hsinchu, dan empat unit lainnya dengan daya masing-masing 600 kW di Pulau Penghu.

Begitu pula dengan hydropower (sumber daya dari air), dengan total kapasitas terpasang mencapai 4.305,1 GWh pada tahun 2008. Selain itu energi panas, energi surya, dan energi biomasa telah banyak dikembangkan di negara ini.

Mari kita simak di negeri kita Indonesia. Sudah warning untuk kita semua, mengenai hemat energi tersebut. Padahal, meningkatnya konsumsi energi rumah tangga dan komersial, telah menjadikan Indonesia sebagai net importer energy. Kebutuhan akan minyak bumi terus meningkat (37%-43,5%), begitu pula dengan gas bumi (61,7%) dan listrik (64,2%), sedangkan produksinya terus menurun (mencapai 8,53%).

Masyarakat umumnya tidak sadar bahwa kita dalam krisis energi saat ini, sehingga pemborosan energi tidak bisa lagi ditolerir.

Indonesia,  memang masih memiliki stok sumber daya alam (dalam hal ini bahan bakar fosil) yang masih dapat dikategorikan berlimpah hingga dua generasi ke depan. Tapi harus diwaspadai juga prediksi para ahli bahwa pada tahun 2051, produksi minyak bumi akan mengalami penurunan hingga 70% dari total produksi saat ini.

Minyak bumi, sebagaimana kita ketahui, menyumbang hingga 34% dari total energi utama dunia. Sedangkan gas alam akan mengalami penurunan produksi pada tahun 2045, sedangkan batu bara hanya mampu bertahan hingga tahun 2100.

Dalam banyak studi, Indonesia menyimpan ribuan energi terbarukan untuk menangani krisis energi, seperti energi matahari, energi biomasa, hydropower (sumber daya air), energi angin, energi panas bumi (geotermal), hidrogen, biodiesel (yang sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum maksimal), bioetanol dan gasifikasi batubara. Namun, kesemuanya itu hampir sebagian besar hanya sebatas wacana dan sedikit sekali pengembangan yang  telah dilakukan.

sumber :  http://aceh.tribunnews.com/2013/01/12/belajar-hemat-energi-dari-taiwan

0 comments:

Post a Comment