Isu Efek Gas Rumah Kaca, Seperti Apa Yang Sebenarnya ??


Beberapa hari lalu kebetulan saya mendapat tugas untuk menghadiri sebuah seminar. Dari undangan yang diberikan, topik yang akan dibahas sebenarnya cukup menarik bagi saya. Menarik karena topik tentang Efek Gas Rumah Kaca dan Pemanasan Global merupakan materi yang awam bagi saya, sedangkan kalau saya melihat dan mendengar di berbagai media, topik tersebut sangat santer disebut.
Hanya saja, saya merasa agak pesimis dan skeptis ketika mengetahui bahwa pemrakarsa kegiatan tersebut dari instansi pemerintah terkait.
Bukan apa-apa, saya sudah punya anggapan, acara sejenis pada bulan-bulan tua seperti ini saya anggap, paling-paling sebagai acara protokoler dan untuk menggenapkan anggaran saja.

Sebenarnya anggapan tersebut tentu saja tidak baik.
Tapi terbukti benar, ketika akhirnya saya hadir mengikutinya, prasangka dan anggapan saya tidak jauh meleset.
Dari keseluruhan rangkaian acara yang ada - kalau dikalkulasi – acara molor waktu dan acara protokoler ternyata hampir berimbang dengan acara penyampaian materi yang sebenarnya.
Dan benar pula, dari segi materi seminarpun – setelah secara sekilas saya baca – ternyata tidak ada yang begitu istemewa.
Bahkan parahnya, dari ketiga materi yang disampaikan oleh masing-masing nara sumber dari instansi yang berbeda, ketiganya 50 % sama persis, dan dua materi diantaranya bahkan 90 % sama persis.
Wah, kompak juga !

Minat dan ketertarikan saya baru tergugah ketika nara sumber kedua tampil memberikan paparannya. Meski substansi materinya sama, tapi karena cara penyampaian yang menarik disertai dengan data dan fakta yang actual, maka tampak dan kedengaran beda.
Dan perlahan-lahan, pola pikir dan cara pandang saya tentang materi Efek Gas Rumah Kaca dan Pemanasan Global sudah mengikuti dan terbentuk seperti apa yang disampaikan nara sumber.

Yang kalau secara besar dikatakan bahwa :

Efek rumah kaca merupakan gejala peningkatan suhu dipemukaan bumi yang terjadi karena meningkatnya kadar CO2 (karbon dioksida) di atmosfer. Gejala ini disebut efek rumah kaca karena diumpamakan dengan fenomena yang terjadi di dalam rumah kaca.
Pada rumah kaca, sinar matahari dapat dengan mudah masuk ke dalamnya. Sebagian sinar matahari tersebut digunakan oleh tumbuhan dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke arah kaca. Sinar yang dipantulkan ini tidak dapat keluar dari rumah kaca dan mengalami pemantulan berulang-ulang. Energi yang dihasilkan meningkatkan suhu rumah kaca sehingga rumah kaca menjadi panas.
Di bumi, radiasi panas yang berasal dari matahari ke bumi diumpamakan seperti menembus dinding kaca rumah kaca. Radiasi panas tersebut tidak diserap seluruhnya oleh bumi. Sebagian radiasi dipantulkan oleh benda-benda yang berada di permukaan bumi ke ruang angkasa. Radiasi panas yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa merupakan radiasi infra merah. Sebagian radiasi infra merah tersebut dapat diserap oleh gas penyerap panas (disebut: gas rumah kaca). Gas penyerap panas yang paling penting di atmosfer adalah H2O dan CO2. Seperti kaca dalam rumah kaca, H2O dan CO2 tidak dapat menyerap seluruh radiasi infra merah sehingga sebagian radiasi tersebut dipantulkan kembali ke bumi. Keadaan inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat atau yang disebut dengan pemanasan global (global warning).

Bahkan pada saat nara sumber mulai memaparkan berbagai akibat dan bencana alam yang ditimbulkan efek gas rumah kaca dan pemanasan global, maka cara pandang dan mind set saya sudah 100 % sama seperti mind set nara sumber.

Hanya saja ketika nara sumber menginjak memaparkan kaitannya dengan masalah pinalti dan factor ekonomi - yang disitu dicontohkan – salah satunya bahwa karena keterkaitannya dengan efek gas rumah kaca maka Negara kita ternyata terkena “ sangsi “ dimana kita tidak boleh dan DILARANG mengekspor CPO kita jika ditanam di lahan gambut ( dan juga beberapa contoh sangsi ekonomis lainnya ) dan juga bahkan mereka ( negara maju ), menuding bahwa sector Pertanianlah ( Indonesia termasuk Negara agraris ) yang merupakan salah satu penyumbang terbesar efek gas rumah kaca, tiba-tiba saja pola pikir dan mind set saya tentang efek gas rumah kaca bergeser bahkan berbalik mendekati 180 %.

Saya pikir, ini tidak beres, aneh dan patut dipertanyakan !
Setidaknya ada 2 :

Pertama :
Bahwa efek gas rumah kaca, sudah mereka ( Negara maju ) ketahui tidak hanya dalam dasa warsa belakangan ini, tapi sudah jauuuh dari dulu. Tapi anehnya baru dasa warsa belakangan ini mereka gerah, bahkan berteriak keras tentang hal tersebut. Dan menekan Negara-negara berkembang untuk segera mengurangi bahkan menghentikan laju gas rumah kaca tersebut.
Sedangkan sudah diketahui, Revolusi Industri yang dilakukan Negara majulah penyumbang terbesar meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan sejenisnya dalam beberapa abad belakangan ini !
Ini tidak beres !

Kedua :
Dilihat dari efek yang ditimbulkan ( perubahan iklim dan terjadinya banyak bencana alam ) sebenarnya negara berkembanglah yang paling banyak terkena dampaknya dan menderita. Negara maju, meski juga terkena, tapi tidaklah separah Negara-negara berkembang.
Sebagai Negara maju, yang notabene adalah kapitalis sejati, dan selalu berorientasi pada factor ekonomi maka hal ini adalah ANEH !
Sedangkan “biasanya” jika Negara berkembang semakin menderita, semakin terbuka peluang Negara maju tersebut memberikan bantuan dan mencengkeramkan pengaruhnya.
( Meskipun bantuan yang diberikan sebenarnya “tidak terlalu banyak“.
Contoh : keseluruhan bantuan Amerika ke semua Negara-negara di Afrika adalah 1,8 Milyar Dollar US setahun. Bandingkan, bantuan yang diberikan kepada hanya untuk “mitranya” Israel guna memperkuat pertahanan negaranya, juga = 1,8 Milyar Dollar US setahun ! ).

Maka bisa diasumsikan, bahwa Negara-negara maju kelihatan gerah dan berteriak keras dasa warsa belakangan ini karena :

1. Saat ini mereka setidaknya sudah mampu meninggalkan teknologi yang banyak menghasilkan gas rumah kaca sedangkan Negara-negara berkembang masih harus berkutat dengannya.
2. Teknologi baru mereka perlu pembeli potensial, yang dalam hal ini tentu saja Negara-negara berkembang.
3. Mereka ingin memberi proteksi produk dalam negeri mereka dan menghambat laju pertumbuhan Negara-negara berkembang.

Untuk tujuan tersebut fenomena efek gas rumah kaca dengan peningkatan emisi CO2 adalah alasan yang dianggap paling logis sebagai kambing hitam untuk memperkuat kepentingan mereka.

Hanya saja ketika saya mencoba menyampaikan asumsi dan pernyataan ini pada acara diskusi seminar tersebut, keburu dipotong moderator dengan alasan waktu telah habis ( atau memang dihabisi ) dan dianggap terlalu menyimpang dari topik utama.
Sedang sang nara sumber masih cukup bijaksana mau memberikan beberapa jawaban dan penjelasan dengan memberikan beberapa contoh penyimpangan fenomena alam yang terjadi akibat pemanasan global, meski bagi saya belum cukup memuaskan. Dan seminar keburu selesai.

Dari jawaban akhir tersebut justru menimbulkan minat dan rasa penasaran saya untuk mempelajari lebih lanjut, sehingga pada akhirnya mencoba mencari-cari jawaban yang lebih dapat diterima.

Dan setelah beberapa lama akhirnya dapat beberapa materi dan data yang justru “berlawanan” dengan mind set dampak efek gas rumah kaca terhadap pemanasan global yang dicoba ditanamkan selama ini, yang “katanya” menyebabkan naiknya muka air laut, penurunan muka tanah, mencairnya es kutub, banjir, naiknya suhu dan perubahan iklim, gagal panen dan sebagainya.

Kurang lebihnya sebagai berikut :

Terjadinya es kutub mencair, naiknya muka air laut, banjir, dituding efek gas rumah kaca adalah biang keroknya.
Jika dihubungkan pada naiknya suhu bumi ada benarnya.
Pertanyaannya : apakah mencairnya es kutub, naiknya muka air laut serta banjir besar yang pernah menenggelamkan bumi beribu tahun lalu ( banjir besar Nabi Nuh ) adalah karena efek gas rumah kaca.
Jawaban yang pasti adalah TIDAK. Karena waktu itu tentu belum banyak yang namanya CO2, SO2 dsb, karena memang belum banyak manusia dan aktivitasnya.

Lalu, naiknya suhu bumi, perubahan iklik yang drastis sehingga banyak wilayah menjadi gurun pasir, juga beribu tahun lalu juga karena efek gas rumah kaca ?
Jawaban yang pasti juga TIDAK !
Karena waktu itu belum ada yang namanya bahan bakar fosil dan sebagainya.
Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.
Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.

Terlebih lagi jika kita simak beberapa temuan astronomi, kosmologi oleh para ilmuwan ( dan NASA ) beberapa dekade belakangan ini, akan lebih mencengangkan, diantaranya :

1. Bahwa aktivitas matahari mempunyai variasi. Variasi Matahari adalah perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari. Terdapat beberapa komponen periodik yang mempengaruhi variasi ini, yang terutama adalah siklus matahari 11-tahunan (atau siklus bintik hitam matahari), selain fluktuasi-fluktuasi lainnya yang tidak periodic. Diyakini aktivitas matahari semakin meningkat, makin panas, terbukti makin banyak ditemukannya “ sun spot “ sebagai indikasinya. Bumi semakin panas akibat dari matahari yg semakin bergejolak. matahari dalam seabad ini muncul bintik2 matahari akibat ledakan energi hidrogen. berdasarkan penelitian, ternyata semakin banyak jumlah bintik2 itu, maka energi panas yg dipancarkan oleh matahari juga semakin tinggi yang akan mempengaruhi juga panas di bumi.

Bahkan banyak diramalkan bahwa beberapa tahun mendatang akan terjadi badai matahari, sehingga “jilatan” panas apinya akan mencapai beribu-ribu kilometer.

Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA telah memberi peringatan bahwa, badai Matahari berpotensi terjadi pada 2013 -- yang bisa merusak alat-alat elektronik dan satelit buatan manusia.
Lapisan korona Matahari sejak lama diyakini sebagai tempat pembentukan jilatan api (solar flares) yang melemparkan partikel-partikel ke luar angkasa -- yang kemudian menciptakan fenomena cuaca luar angkasa. Ketika aktivitas Matahari serta pembentukan jilatan api meningkat, dapat menghasilkan fenomena badai Matahari yang dapat memicu bencana di Bumi.

2. Sinar Alam Smesta, sinar Gamma dan sebagainya adalah Sebab Utama Pemanasan Global
Sebuah percobaan yang dilakukan ilmuwan beberapa bulan yang lalu menunjukkan, bahwa dalam proses terbentuknya lapisan awan, sinar alam semesta mungkin berperan penting timbulnya pemanasan global.

Sinar alam semesta adalah suatu arus partikel yang memiliki energi yang kuat, dan terjadi di bintang tetap. Arus partikel bermuatan listrik terus menerus membombardir Bumi, menghasilkan ion bermuatan listrik di atmosfer. Ion-ion ini seperti magnet, menarik uap air mengembun, kemudian menjadi awan.
Ilmuwan menggunakan sinar ultraviolet mereproduksi sinar alam semesta, dan menurut hasil penelitian terkait, bahwa gugusan ozon, karbondioksida dan air di atmosfer, di mana ketika menarik uap air berperan sebagai materi apung, yang kemudian menjadi awan. Jumlah gugusan ozon dengan jumlah ion yang muncul bernilai sebanding, jumlah ion terutama tergantung pada frekuensi sinar alam semesta mencapai Bumi.
Dalam jurnal Astrophysical Journal Letters edisi 1 Agustus 2010 bahkan disebutkan secara detil Penemuan oleh IceCube mengenai sinar kosmik ini. Sinar kosmik dengan pola aneh tak beraturan membombardir Bumi dari luar angkasa. Fenomena ini ditangkap oleh eksperimen IceCube Neutrino Observatory yang dibangun jauh di dasar lapisan es Antartika.

3. Efek umpan balik
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Dari ketiga temuan dan data tersebut sebenarnya ( hampir ) bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa efek gas rumah kaca ( akibat naiknya konsentrasi gas CO2, SO2, dan sejenisnya ) bukanlah penyebab utama terjadinya pemanasan global dan berbagai bencana.
Terlebih lagi jika ditambah beberapa temuan tambahan sbb :

1. Kutub utara dan selatan bertukar tempat
Setiap beberapa ratus tahun, kutub magnet Bumi terbalik. “Masalahnya bukan terletak pada perubahan tempatnya, namun medan magnet bumi ini akan menarik radiasi matahari di sekitar kutub,” jelas penulis buku Implied Spaces, Walter Jon Williams. “Jadi, jika kutub bertukar tempat maka banyak penduduk yang akan terbakar.”

Menurut sejumlah ilmuwan, pergeseran ini lebih besar dibandingkan dengan yang mereka perkirakan. Peneliti menemukan, pergeseran massa air di seluruh dunia, dikombinasikan dengan apa yang disebut dengan post-glacial rebound, telah menggeser permukaan bumi dari pusatnya sebanyak 0,035 inci atau 0,88 milimeter per tahun ke arah kutub utara.
Post-glacial rebound merupakan efek balik dari permukaan padat bumi terhadap berkurangnya gletser dan hilangnya beban berat. Dengan berkurangnya gletser pada akhir jaman es, tanah di bawah es mulai naik dan terus naik. Untuk itu, seperti sudah diperkirakan, lapisan padat di permukaan akan bergerak ke utara sebagai efek dari pusat massa planet.
Saat menghitung perubahan ini, para ilmuwan mengombinasikan data gravitasi dari NASA dan satelit German Aerospace Center Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) yang mengukur pergerakan permukaan bumi lewat GPS dan model yang dikembangkan oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA yang memperkirakan massa samudra di atas setiap titik di dasar samudera.

2. Benda-benda angkasa : meteorit, asteroid, komet ( atau bahkan planet NIBIRU ) yang mendekati atau masuk ke atmosfir bumi.
TIM ilmuwan Kobe University, Jepang,menemukan sebuah planet baru yang mengorbit di sisi paling luar sistem tata surya tempat Bumi berada, NIBIRU. Telah banyak saintis sebelumnya memprediksi akan keberadaan planet dan bencana yg diakibatkan dari planet ini. Periode planet ini berpapasan dg bumi selama 3600 th sekali (tepatnya 3661 th). Dan selama setiap periode itu tercatat akibat grafitasi pd planet ini bencana2 besar terjadi dibumi bahkan memusnahkan peradaban2 besar. koran “Washington Post” mencatat hasil wawancara dengan ilmuwan JPL IRAS. ” sebuah planet yang sangat besar kira-kira sebesar planet raksasa jupiter dan kemungkinan sangat dekat dengan bumi yang nantinya akan menjadi bagian dari sistem tata surya kita telah ditemukan dalam dalam konstelasi Orion. “
“Nibiru” adalah secara keseluruhan tidak bisa dihuni, dan sangat berbahaya.saat bintang hitam berada di posisi perihelion(jarak terdekat dari matahari) sekutar 60AU sampai 70AU, orbit nibiru, yang dalam 60Au dari induknya, mempunyai orbit yang cukup jauh untuk memotong orbit tata surya kita, sering disebut dengan orbit jupiter, tapi info ini masih simpang siur. orbit nibiru adalah 30 derajat menuju sistem tata surya kita ( eliptic) seperi pluto. dan akhirnya Nibiru memotong orbit tata surya kita, dan seringkali dalam pemotongan ini, planet-planet yang lain mengalami efek-efek buruk seperti pemindahan orbit planet. Jika bumi bergerak diantara Nibiru dan matahari, maka efek terburuk dimungkinkan terjadi, seperti : pergantian kutub dan visual bumi,gempa bumi yang sangat besar,dan mega tsunami menimpa bumi.

3. Belum lagi efek fenomena alam lain, seperti debu abu vulkanik dan sebagainya.

Jadi secara logis sebenarnya dapat ditarik satu kesimpulan bahwa :

1. Dari tinjauan di atas, fenomena alam dan siklusnya-lah yang sebenarnya lebih bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global dan bencana alam di bumi ini.

2. Meski tidak dipungkiri bahwa aktivitas manusia yang banyak menghasilkan gas CO2,SO2, Methan dsb, menyebabkan efek gas rumah kaca yang ikut andil dalam pemanasan global, namun dampak efek gas rumah kaca tidaklah seperti yang diteriakkan dan ditudingkan ( kepada Negara berkembang ) oleh Negara maju sebagai yang paling bertanggung jawab dan kambing hitam terjadinya pemanasan global.

Juga, Bisa jadi sangat logis jika dikatakan bahwa isu efek gas rumah kaca yang sengaja dihembuskan adalah untuk kepentingan ekonomi kapitalis, melindungi diri sendiri dengan mengkambing hitamkan Negara-negara berkembang agar tetap terus ketinggalan.

Namun seperti uraian diawal, sebenarnya saya awam dalam teknologi ini, terlebih lagi bukan ilmuwan. Jadi semua asumsi dan penalaran yang telah saya sampaikan bisa jadi salah. Tapi bisa jadi juga benar. Dan tentu harus dibuktikan secara ilmiah pula pada temuan lebih lanjut.

Hanya saja masalahnya - jika asumsi saya benar – alangkah begitu menyedihkannya kita, begitu mudah dibodohi, dikadali oleh Negara-negara yang terlebih dulu maju dari pada kita.
( Mohon maaf, mind set yang telah tertanam di sebagian besar benak kita – bahwa efek gas rumah kacalah actor utama terjadinya berbagai macam bencana !).

Sedangkan merekalah – para Negara maju – yang berbuat, kitalah yang harus menanggung akibatnya. Dan selalu ditekan agar terus berkutat dengan hal itu sehingga “lupa” mengejar ketertinggalan kita.

Lepas dari itu semua, tentu saya sangat setuju bahkan mendukung upaya-upaya untuk mengurangi efek gas rumah kaca, tetap menjaga kelestarian bumi, demi pertanggung jawaban dan anak cucu kita.
( Selama tidak dibodohi dan dikadali ! – oleh mereka-).


Sumber : http://www.waspbook.co.cc/2010/10/issu-dampak-efek-gas-rumah-kaca-adalah.html




0 komentar:

Poskan Komentar