Menguji Performa BalckBerry Torch



Performanya lebih tangguh dari jenis-jenis BlackBerry lainnya. Software BlackBerry OS 6 menawarkan berbagai kelebihan dalam berselancar, seperti membuka layar lebih dari satu halaman. Layar sentuhnya juga lebih baik ketimbang BlackBerry Storm. Hanya, papan ketiknya tak nyaman. Kamera video masih standar.

Peringkat performa: 3,5 bintang dari 4 bintang


Research In Motion (RIM), produsen BlackBerry, rupanya sedang diliputi keraguan terhadap pasar saat meluncurkan BlackBerry Torch. Mereka ingin meluncurkan peranti layar sentuh yang bisa menyaingi iPhone, tapi ragu apakah pasar mau menerimanya. Sebelumnya, mereka sudah meluncurkan BlackBerry dengan layar sentuh (tepatnya layar tekan karena harus ditekan kuat-kuat), yakni Storm. Tapi pasar tak antusias menyambutnya.

Alhasil, saat meluncurkan Torch, RIM seperti dibayangi kegagalan Storm. Akhirnya, mereka meluncurkan peranti yang memiliki fitur layar sentuh dan papan ketik. Layar sentuhnya sudah mulai oke, mendekati kehebatan layar sentuh iPhone. Tapi papan ketiknya justru tak nyaman karena letaknya yang tersembunyi, sehingga ukurannya pun dibuat lebih tipis.

Dua teknologi gado-gado itu setidaknya membuat Torch jauh lebih populer ketimbang BlackBerry Storm. Di Jakarta, Torch mulai digemari--walau tak sebanyak BlackBerry Onyx atau Curve.

Harus diakui, meski populer, teknologi layar sentuh BlackBerry dan sistem operasinya masih ketinggalan dibanding iPhone atau Samsung Galaxy S, yang memakai Android. Sistem operasi 6 belum seindah mereka berdua. Kendati begitu, software ini tetap saja menawarkan beberapa kelebihan. Contohnya, saat berselancar, orang bisa membuka lebih dari satu layar--sesuatu yang mustahil dilakukan bila memakai sistem lama.

Layar sentuh Torch ini tak lagi menggunakan teknologi Surepress, layar mesti ditekan kuat-kuat. Sekarang, dengan sedikit sentuhan jari, papan ketik itu sudah mengalirkan huruf-huruf. RIM patut diapresiasi atas kerja kerasnya soal ini. Hanya, ukuran papan ketiknya, karena disembunyikan di bawah layar yang bisa digeser, menjadi supertipis. Tak senyaman papan ketik BlackBerry lainnya.

Dari sisi layar dan kamera, jangan bandingkan Torch dengan Samsung Galaxy S, yang menggunakan layar cerah teknologi Amoled. Torch tak seindah itu. Kamera 5 megapikselnya pun masih standar, kalah oleh kamera Galaxy S. Layarnya berukuran 3,2 inci dengan teknologi separuh VGA (480 x 360 dengan jumlah piksel per inci hanya 188 buah). Karena itu, layar dan kameranya tak bisa cling.

Layar sentuh Torch bisa aktif dalam mode berdiri (potret) atau horizontal (mendatar). Sayangnya, kalau dipakai menulis dalam keadaan mendatar, ukuran layar yang tersisa menjadi sangat sempit.

Penampilan luar Torch lumayan memukau. Dengan dimensi panjang 11,8 sentimeter dan lebar 6,1 sentimeter, Torch tampak seperti telepon seluler premium. Apalagi tubuhnya dibalut bahan plastik yang warnanya seperti warna logam. Papan ketiknya tak nyaman. Baru kali ini RIM bisa membuat desain yang apik. Harganya juga "apik", sekitar Rp 5,9 juta.

Kelebihan Torch dibanding ponsel lainnya, selain merek BlackBerry, adalah teknologi jaringan yang selalu terhubung dengan Internet. Sudah bukan rahasia lagi, di Indonesia, sebagus apa pun ponselnya--mau iPhone, Galaxy S atau yang lainnya--koneksi Internetnya kerap bikin “jantungan”. Kadang terhubung, kadang tidak. Ini karena layanan 3G dari operator yang masih jauh di bawah standar.

Layanan BlackBerry menyelamatkan dari semua itu. Koneksinya Internetnya nyaris 100 persen selalu "nyambung". Dengan Torch, Anda bisa menikmati surel tanpa putus, aliran Internet yang nyaman.


Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/uji_produk/2010/12/04/brk,20101204-296738,id.html

0 comments:

Post a Comment