Hasil Visum G30S di Indoleaks Bukan Temuan Baru



Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam mengatakan hasil visum korban Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang dibocorkan oleh situs Indoleaks.com bukanlah temuan baru. "Itu sudah pernah ditulis oleh Benedict Anderson dalam Jurnal Indonesia," ujarnya saat dihubungi Tempo, Senin 13 Desember 2010 kemarin.


Menurut Asvi, dokumen yang dibocorkan itu hanya sebagian dari sebelas dokumen korban peristiwa itu. Asvi sendiri mengaku pernah melihat semua dokumen yang ada. "Saya pernah lihat, tapi tidak hafal satu-persatu," ujarnya. Dokumen hasil visum tersebut juga dimiliki oleh seorang peneliti Indonesia asal Amerika, Benedict Anderson. "Dia pernah mengupas tuntas dokumen ini dalam tulisannya di Jurnal Insonesia edisi April 1987," ujar Asvi.

Sebelumnya, situs Indoleaks menyebarkan empat dokumen hasil visum korban peristiwa 30 September 1965. Keempat dokumen yang dikeluarkan oleh Direktorat Rumah Sakit Departemen Angkatan Darat tersebut, dibuat pada tanggal 4 dan 5 Oktober 1965. Dalam kesimpulannya, keempat dokumen itu menyatakan bahwa jenazah ditemukan sudah dalam kondisi membusuk. Hal ini dikarenakan keempat korban diduga telah meninggal empat hingga lima hari sebelumnya.

Selain itu, dalam dokumen ini juga dinyatakan bahwa rata-rata korban mengalami luka tembak di sekujur tubuhnya. Sayangnya, dalam dokumen yang disebarkan Indoleaks tersebut data identitas jenazah ditutupi. Misalnya dalam dokumen visum pertama, kolom nama, pangkat dan jabatannya ditutupi kotak hitam. Dalam kolom identitas hanya terlihat umur, 43 tahun, jenis kelamin lak-laiki, agama Islam dan kebangsaaan Indonesia. Dalam dokumen itu juga disebutkan terdapat 10 luka tembak di sekujur tubuhnya.

Dalam dokumen kedua, kolom identitas yang dapat terlihat hanya agamanya yakni Islam dan kebangsaaan Indonesia. Jenazah kedua ini diketahui mengenakan sebuah kemeja tangan panjang bercorak kotak-kotak berwarna hitam-coklat. Kemeja tersebut bermerk o'Kennedy. Dokumen ini menyebutkan, jenazah ditutupi kepalanya dengan kain sarung. Hasil otopsi menyebutkan bahwa di tubuh jenazah ditemukan 11 luka tembak dan beberapa tulang yang retak karena hantaman benda tumpul.

Dokumen hasil visum ketiga menyebutkan bahwa korban berjenis kelamin laki-laki dan beragama Islam. Jenazah dikenali dari cincin yang dikenakannya dan sejumlah dokumen seperti SIM dan juga kartu tanda anggota tentara. Di cincin itu bertuliskan SPM. Jenazah ketiga ini mengalami lima luka tembak, tiga diantaranya dibagian kepala. Selain itu jenazah ini juga diketahui mengalami hantaman benda tumpul di bagian kepalanya.

Dalam dokumen terakhir, Hanya jenis kelamin dan kebangsaan yang tidak ditutupi. Hasil otopsi menunjukkan, korban mengalami hantaman benda tumpul dibagian kepalanya dan empat luka tembak.


Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/12/14/brk,20101214-298747,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

0 comments:

Post a Comment