Kunyit Sebagai Obat Anti Kanker Alami


rempah-rempah yang buruk rupa ini, punya khasiat sebagai anti kanker. Masalahnya, nggak banyak masyarakat Indonesia yang tau tentang kehebatan kunyit. Biasanya, masyarakat indonesia mengkonsumsi produk olahan kunyit (ada jamu, sirup, bahkan permen gan) hanya sebagai pelega tenggorokan.

padahal, kunyit punya kemampuan yang mantap untuk menghambat sel kanker. Ini kutipan dari PKM. Dibaca ya, biar masyarakat Indonesia tau kalau kunyit itu huebat banget.


Kunyit (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Sejak dulu, kunyit sudah dimanfaatkan sebagai obat herbal untuk berbagai penyakit. Hal ini tak lepas dari kandungan kunyit berupa kurkuminoid, minyak atisiri, mineral, dan zat-zait lain yang memiliki manfaat terhadap dunia medis. Kandungan terbesar dari kunyit adalah zat warna kurkumoid. Kurkumoid sendiri terdiri dari kurkumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin.

Pertengahan tahun 2009, tim riset hasil kolaborasi beberapa universitas dan badan riset di Korea Selatan, membuktikan secara in vitro dengan analisa SPR (Surface Plasmon Resonance) maupun in vivo dengan analisa APN-specific antibody competition, bahwa salah satu senyawa aktif yang terkandung di kunyit ternyata mampu menahan laju pertumbuhan kanker.

Seperti dugaan para ahli sebelumnya, kurkuminlah (senyawa fenolik alam), yang memiliki potensi dalam pengobatan kanker. Penelitian tersebut melibatkan proses pengujian atau dikenal sebagai ‘screening process’ terhadap kurang lebih 3000 jenis senyawa yang diperkirakan aktif menghambat pertumbuhan sel kanker dan akhirnya diperoleh fakta bahwa senyawa kurkumin memiliki aktivitas kemopreventif.

Kurkumin merupakan bagian terbesar pigmen kuning yang terdapat pada rimpang kunyit (Curcuma Longa L.). Kurkumin ( 1,7-bis(4′ hidroksi-3 metoksifenil )-1,6 heptadien, 3,5-dion merupakan komponen penting dari Curcuma longa Linn. Kandungan kimia yang memberikan warna kuning yang khas (Jaruga et al., 1998 dan Pan et al., 1999). Kurkumin termasuk golongan senyawa polifenol dengan struktur kimia mirip asam ferulat yang banyak digunakan sebagai penguat rasa pada industri makanan (Pan et al., 1999).

Kurkumin tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol atau dimetilsulfoksida (DMSO). Degradasi kurkumin tergantung pada pH dan berlangsung lebih cepat pada kondisi netral-basa (Aggarwal et al., 2003a). Struktur kimia kurkumin [1,7-bis-(4'-hidroksi-3'-metoksifenil)hepta-1,6-diena-3,5-dion].

Memang, selama dua dekade belakangan ini, penelitian tentang kurkumin sebagai bahan aktif untuk beberapa penyakit telah banyak dilakukan. Di antara penelitian-peneitian tersebut antara lain, kurkumin memiliki kemampuan sebagai antioksidan (Rao, 1997. , Majeed et al. , 1995), antiinflamasi (Van der Goot, 1997. , Sardjiman, 1997), antikolesterol (Bourne et al., 1998), antikanker (Huang et al., 1997. , Singletang et al., 1998. , Huang et al., 1998), dan antiHIV (Mazumder et al., 1997. , Bartholerny et al. , 1998).

Mekanisme kerja kurkumin sebagai antikanker merupakan hal yang sangat kompleks, dikarenakan adanya kemampuannya berikatan dengan enzim aminopeptidase N. (APN) dan menghambat aktivitas enzimatiknya. APN adalah suatu enzim yang terdapat pada jaringan membran di dalam tubuh (dikenal sebagai zinc-dependent metalloproteinase) dan bertanggung jawab terhadap angiogenesis dan pertumbuhan tumor.
APN tersebut yang berfungsi membongkar protein pada permukaan sel jaringan tubuh sehingga sel kanker dapat mengambil alih kedudukan sel jaringan tadi dan tumbuh tak terkendali. Dugaan sementara, kemungkinan besar ikatan tak jenuh (ikatan rangkap), alfa dan beta di sekitar gugus keton pada kurkumin membentuk ikatan kovalen dengan dua nukleofil asam amino yang terdapat pada situs aktif APN dan mampu menghambat (inhibit) aktivitasnya secara tak-dapat balik (irreversible).

Aktivitas antioksidan dan penangkap radikal kurkumin terdokumentasi dengan baik dan mengindikasikan hubungannya sebagai penghambat proses karsinogenesis kanker. Aktivitasnya sebagai antiplamasi yaitu sebagai inhibitor asam sikloorgenase memiliki kaitan dengan aktifitasnya sebagai antikanker terutama kanker kolon. Kurkumin juga aktif dalam menghambat proses karsinogenesis pada tahap inisiasi dan promosi atau progresi. Kurkumin juga memiliki efek memacu proses apotosis yaitu suatu proses alami kematian sel dalam rangka mempertahankan integritas sel secara keseluruhan (Meiyanto, 1999).
Penelitian lain menunjukkan bahwa kurkumin mampu menghambat proliferasi sel dan menginduksi perubahan siklus sel pada colon adenocarcinoma celf lines tanpa tergantung jalur prostagiandio (Hanif et al. , 1997). Kurkumin juga mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara manusia tanpa tergantung ekspresi reseptor estrogen (Verma et al., 1998).

Semua kemampuan kurkumin pada kunyit inilah yang menyebabkan kunyit memiliki potensi yang tinggi sebagai obat herbal antikanker. Yang diperlukan hanyalah pemahaman bagaimana mengoptimalkan mendapatkan kandungan kurkumin yang maksimal setiap pengolahan kunyit agar efek antikanker yang dirasakan pasien kanker semakin efektif.

Kenapa kunyit begitu hebat? Karena kunyit mengandung kurkumin


Sebagai antikanker, aksi kurkumin dikaitkan dengan aktifitasnya sebagai senyawa antiinflamasi yaitu, sebagai inhibitor enzim sikloorgenase (suatu enzim yang mengkatalis pembentukan prostadonat), dan juga sebagai senyawa pemacu apoptosis. kurkumin juga memiliki efek memacu proses apotosis yaitu suatu proses alami kematian sel dalam rangka mempertahankan integritas sel secara keseluruhan (Meiyanto, 1999).

0 comments:

Post a Comment