Cara Membuat Ban Tak Cepat Aus

Ban merupakan salah satu komponen terpenting mobil yang kerap luput dari perhatian. Tidak sedikit dari pemilik mobil yang hanya berpatokan pada tampilan ban saat melihat tingkat keausan ban.


“Pemilik mobil sering berdalih bahwa ukiran di tapak ban masih cukup dalam sehingga kondisinya dibilang bagus,”

Padahal, kondisi ban yang bagus tidak hanya ditentukan tampilan ukiran. Kelenturan karet, keutuhan dinding, serta stabilitas saat berputar juga menjadi ukuran penting bagus tidaknya bagian utama kaki-kaki mobil itu.

Ban yang bermasalah, selain menyebabkan ketidaknyamanan dalam berkendara juga berpotensi menjadikan mobil rawan kecelakaan. “Oleh karena itu melakukan perawatan secara benar dan rutin merupakan cara jitu untuk mencegah ban cepat rusak,”

Berikut tips perawatan ban dari Punjung :

1. Melakukan spooring dan rotasi ban secara rutin



Mobil yang saban hari melibas berbagai jenis dan karakter jalan, menyebabkan posisi roda tidak selaras lagi. Alhasil, arah laju ban saat mobil melaju pun melenceng ke samping alias tidak lurus.

“Besaran sudut melencengnya posisi dan arah ban itu bervariasi tergantung kondisi, namun pada kondisi biasa saja bisa 5 – 8 derajat,” terang Punjung.

Bila terjadi, selain akan menggerus permukaan dan dinding bagian luar ban, itu juga berpotensi mengundang bahaya karena laju mobil tidak stabil. Selain tidak nyaman tentunya.

Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk melakukan spooring dan balancing, serta merotasi ban. Kegiatan spooring dan balancing sebaiknya dilakukan setelah mobil menempuh perjalanan 4.000 kilometer (km). Adapun rotasi atau memindah penempatan ban, bisa dilakukan setelah mobil menempuh jarak 5.000 km.

2. Menjaga tekanan angin ban yang tepat



Selama ini, banyak pemilik mobil yang salah kaprah mengartikan rekomendasi tingkat tekanan angin ban. Mereka kerap menambah tingkat tekanan angin ban 2 psi lebih tinggi dari tingkat yang telah direkomendasikan pabrikan mobil. Bahkan lebih.

Padahal, dengan tekanan angin yang lebih keras dari semestinya akan menjadikan permukaan ban menggelembung pada bagian tengah. Sehingga, titik tumpu saat ban melibas jalanan hanya terkonsentrasi di tengah.

Alhasil, bagian tengah ban cepat tipis atau aus. Bahkan, dalam kondisi ekstrem rajutan benang dan kawat baja terputus atau terurai. “Jika itu terjadi, bukan saja ban menjadi rusak tetapi juga berpotensi pecah saat mobil melaju kencang,” jelas Punjung.

Begitu pun sebaliknya. Bila tekanan angin ban kurang dari tingkat yang direkomendasikan, maka beban berupa bobot mobil dan segala isinya disangga oleh dua titik tumpu yaitu bagian samping kiri dan kanan ban.

Akibatnya, dua bagian tersebut cepat aus atau tidak rata. Kondisi itu, sangat berpotensi menyebabkan ban pecah dan laju mobil tidak stabil.

Tekanan angin ban yang tepat bisa dilihat secara kasat mata. Ukurannya, bagian ban yang langsung bersentuhan dengan permukaan jalan terlihat rata, namun tingkat tekanan angin sesuai dengan rekomendasi pabrik.

3. Pastikan komponen kaki-kaki tidak bermasalah



Faktor penyebab lain yang tidak kalah besar kontribusinya terhadap kerusakan ban adalah komponen suspensi yang bermasalah. Pasalnya, bila komponen tersebut bermasalah menyebabkan pengendalian mobil tidak stabil.

Pada saat itulah arah gerakan ban di saat mobil melaju juga mengarah ke kiri dan ke kanan. Bahkan saat melibas jalan bergelombang atau berlubang, ban seperti dihempaskan dan diseret.

Akibatnya, beberapa bagian ban lebih tipis dari lainnya alias benjol-benjol. Struktur kerangka ban yang berupa kawat dan benang juga cepat aus pun putus atau melengkung.

Oleh karena itu, periksa rutin komponen kaki-kaki mobil mulai dari shockbreaker, tierod, bushing arm, laker, dan lain-lain. Segera lakukan perbaikan atau penggantian bila komponen itu bermasalah atau telah rusak.

4. Hindari mengemudi dengan agresif dan sering melibas lubang



Kebiasaan mengemudi yang juga menyebabkan ban cepat rusak adalah kerap bermanuver yang tidak perlu. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi dan melakukan pengereman mendadak misalnya.

Cara salah lainnya adalah kerap melibas jalanan berlubang saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, selain kaki-kaki mobil bermasalah juga menjadikan konstruksi ban bermasalah.


Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/modifikasi/2011/06/11/brk,20110611-340057,id.html

0 komentar:

Post a Comment